Inning Time

Sewaktu saya masih kecil, saya suka diajak nonton oleh Papa dan Mama yang sangat suka menonton film action. Tak heran jika saya cukup tau beberapa aktor film action dan gaya bertarungnya. Tapi kadang mereka bingung melihat saya, saya yang masih kecil, sewajarnya lugu, dan hanya ikut nonton karena motivasi tak terelakkan (baca: martabak manis) malah kadang luput dalam jalan cerita film dengan mata fokus menatap layar kaca TV (serta mulut mengunyah martabak). Saya tidak sabar menunggu akhir film. Saya tahu bahwa tokoh protagonist pasti menang, saya tidak berkeberatan atas hal itu. Tetapi, saya ingin melihat sebagaimana besar perjuangan tokoh antagonis (baca: nasib kalah) dalam memperjuangkan ideologinya. Di banyak kasus, saya tidak puas.

Saya memang diajar untuk tidak menerima nasib apa adanya oleh Mama saya. Mama yang tidak boleh sekolah (bukan tidak mampu) oleh Nenek yang berpandangan bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Saya terus dileskan (kursus pelajaran) sana-sini: melukis, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, biola, dll. Saya kadang enggan untuk mengambil les. Saya sadar, ekonomi keluarga pas-pasan. Di sisi lain, Papa dan Mama adalah orang-orang visioner. Sejak saya dan kakak perempuan saya kecil, kami belajar satu hal yang terus mereka ulang: kami harus jadi orang. Saya tahu, Papa dan Mama pasti memutar akal berkali-kali untuk memanage uang bagi les kakak dan saya. Kakak saya orangnya pintar, dia selalu peringkat 1 di SD. Saya percaya bahwa kalau saya tidak mengambil les apapun, maka semua sumber daya ekonomi keluarga dapat dialokasikan buat kakak saya saja. Bagaimanapun, kakak yang menyelamatkan saya pula dari kecelakaan sewaktu saya masih sangat kecil – merangkul saya dengan kedua tangan, membiarkan atap kayu rumah yang jatuh menimpah kepalanya serta memberinya luka jahit di kepala. Saya merasa ia lebih layak sukses daripada saya.

Namun saya mengingat film-film yang saya tonton semasa kecil. Di semua film ada tokoh yang seperti dari awal proses penyutingan, ia sudah ditakdirkan untuk kalah atau mungkin mati. Saya bertanya pada diri saya. Apakah saya ditakdirkan kalah dalam hidup ini? Saya benci aturan orang baik pasti menang. Saya percaya orang yang berusaha maksimal pasti menang. Oleh sebab itu, biarkan kedua pihak bertarung dengan semua sumber daya mereka dan kondisi normal. Bagaimanapun, saya tidak berkebaratan jika jagoan menang, tapi saya ingin lihat usahanya, bukan kemanangan mutak. Itu bisa dibilang ideologi yang saya nafasi. Lantas, saya bertanya. Apakah saya yang ditakdirkan untuk kalah di dalam hidup ini? Dengan ideology tadi, tentu jawaban saya mutlak. TIDAK! Jikapun ya, oleh suatu set scenario tertentu, saya akan mengubahnya! Tetapi di sisi lain, saya sadar banyak orang kaya yang punya sumber daya ekonomi lebih dari keluarga saya. Kebanyakan menonton film perang, saya melihat keluarga sebagai sebuah kubu. Dan bagi saya seorang sukses dari kubu saya sudah lebih bernilai daripada dua orang moderate sebagai outcome. Saya melihat sedikit kontradiksi. Saya di satu sisi ingin membiarkan orang tua memfokuskan sumber daya ke kakak yang notabene bercita-cita ingin jadi dokter serta punya otak yang mumpuni. Di sisi lain pula, saya tidak ingin menerima nasib sebagai outcome proses hidup yang tidak terlihat. Saya terus bertanya pada diri saya, apa solusinya.

Kadang saya berpikir seperti ini. Setiap anak tidak bisa memilih ia mau dilahirkan di keluarga seperti apa. Dengan kata lain, apakah Tuhan itu seorang yang pilih kasih? Seorang yang menempatkan anaknya di starting line berbeda: mereka dengan power boost, mereka dengan kaki berlapis sepatu, dan mereka yang perlu melepaskan rantai pengikat terlebih dahulu? Apakah Tuhan itu tidak adil? Ini kembali kontradiktif ke postulat bahwa Tuhan adalah sumber kasih yang mahaadil. Sesuatu yang bagi saya merupakan aksioma. Lalu saya melihat suatu arti. Tuhan memang meletakkan setiap orang di start berbeda, saya tidak bisa berbohong kepada akal logis saya. Ibarat hidup adalah lomba lari, pasti ini adalah lari yang sangat jauh. Lari yang sakin jauhnya, sebut saja limit mendekati tak hingga, titik acuan start menjadi tidak relevan niainya. Saya belajar satu hal. Start saya bukanlah pengekang saya. Saya yang dilahirkan di keluarga sederhana berkecukupan tidak lebih rendah dan tidak akan kalah dari mereka dengan start di depan saya. Saya belajar satu hal. Saya dilahirkan untuk berjuang, memberontak melawan definisi “nasib” di dunia ini.

Mama memang sering berkata bahwa ia adalah pemberontak dan di antara saya dan kakak, sayalah yang paling pemberontak. Saya rasa mama dan saya memiliki suatu notasi pemberontakan hidup yang serupa. Kami tidak suka aturan pengekang yang mensyaratkan bahwa kami tidak bisa sukses di hidup ini. Sejak saat itu saya sadar akan hal ini, saya berubah. Saya paham, sekalipun mama dan papa akan fokus menyekolahkan kaka untuk pendidikan dokter. Dengan sisa uang yang ada, dengan segala keterbatasan, saya tidak akan kalah. Saya akan terus memukul hidup tepat di mukanya seraya menyuarakan aspirasi bahwa saya lahir untuk berjuang.

Singkat cerita, saya masih ingat bagaimana saya ikut serta lomba-lomba di SMP dan SMA, hingga bisa ikut OSN Matematika. Bagi saya, itu adalah pemberontakan terstruktur dan sistematis (tidak bisa dibilang masif) terbesar yang pernah saya perbuat. Pemberontakan melawan nasib berikutnya adalah pencarian kuliah yang menempatkan saya di ITB dan kemudian pindah ke Jepang. Saya kembali bertanya pada diri saya. Apakah saya akan menjadi musuh bebuyutan nasib selamanya? Menolak ide-ide kestabilan hidup dan memaksa hidup membuka jalan yang bagi saya layak bagi saya? Saya terus berpikir dan menjawab dengan penuh pertimbangan. Ya, saya akan. Jika hidup tidak memberikannya kepada saya, maka saya yang akan merebutnya.

Saya sebenarnya menulis ini di tengah ‘pertempuran’ saya. Terkadang saya terjatuh, merasa sendirian, dan lupa bahwa saya punya Tuhan yang besar, saya punya orang tua yang perlu saya buat bangga, saya punya kakak yang perlu saya buat puas dengan pengorbanannya di kecelakaan sewaktu kami kecil. Agar saya bisa membuat Tuhan senang, agar orang tua saya bisa merasakan pengorbanan banting tulang mereka melawan nasib terbayarkan, agar kakak saya juga bisa melihat wajah saya dengan kepercayaan. Saya juga sempat lupa saya punya banyak teman-teman hebat, guru-guru inspirator, dan banyak orang di sisi saya yang secara dinamis mengubah keterjalan nasib menjadi lebih mudah untuk dialalui.

Saya masih ingat bagitu banyaknya anggota ‘revolusi nasib’ kuliah saya hingga bisa di tempat ini. Dari semua guru saya, Pak Dar yang menantang saya untuk mengalahkan ilmunya, Pak Domi yang mengenalkan kami ke konsep Mestakung Prof. Surya, Pak Dedi yang berkati bahwa setiap orang harus punya ideologi hidup, Bu Ike yang percaya bahwa saya dan teman karib olimpiade saya punya masa depan yang layak ia perjuangkan, Suster Pauli yang percaya akan ide, visi, dan semangat saya dalam belajar, Pak Manto yang mengenalkan saya batas baru ilmu pengetahuan, Pak Yoso yang membuka cakrawala dunia baru lewat internet dan komputer, Pak Narwan yang mengajari bahwa latihan dan kerja keras akan berbuah serta hidup adalah sesuatu yang perlu diperjuangkan, Kak Albert yang akhirnya percaya akan kapabilitas saya dan menjadi guru bagi saya, Albertus yang menjadi saingan terberat saya dari SD dan menjadi tembok pantul pengukur betapa saya perlu berjuang lebih, Teddy Wijaya Harlim yang memberi tahu saya info beasiswa pemerintah Jepang bahkan mencetak soal matematika bagi saya, James Riady yang tanpanya jam istirahat saya di SMA hanya menjadi pengerjaan PR, Franstio dan Wildan yang mengajari saya Kimia, Jannatin, Taufiq, Dimas yang mengajari saya Fisika, begitu banyak guru yang tidak bisa saya tulis satu-satu di sini, sederet senpai di negri orang ini yang siap menolong saya, dan masih banyak lagi. Saya juga berterima kasih atas kegagalan saya di tes beasiswa pemerintah Singapura, kekalahan saya di Olimpiade Sanata Dharma, kekalahan saya dari Albertus dari SD-SMP, keberhasilan saya di Olmat Unpar 2013 yang membuat saya sadar bahwa saya lebih dari yang saya bayangkan, atau bahkan hal kecil yang kini saya ingat dan rindu untuk melakukannya lagi. Saya rindu untuk terngantuk-ngantuk di motor saat ayah membawa saya pulang dari les Bahasa Inggris ke rumah, saya rindu mama yang sering memasak tempe goreng bahkan dua-tiga hari berturut-turut demi saya – dengan konsekuensi protes Papa yang tidak suka tempe, saya masih ingat… banyak hal yang tidak boleh saya kecewakan.

The real battle starts when one gets tired”

Oleh sebabnya, saya masih punya banyak orang yang perlu saya buat tersenyum, masih ada Papa dan Mama yang dengan penuh kesabaran dan cinta kasih, menunggu pembuktian revolusi nasib anaknya yang juga adalah bukti apakah revolusi nasib mereka berhasil atau tidak, saya masih punya kakak yang perlu saya buat bangga dan berani berkata ia punya adik seperti saya.

Saya tidak akan menyia-nyiakan intervensi besar-besaran Tuhan dalam hidup saya yang paling saya rasakan sewaktu SMP. Di mana di olimpiade Matematika SMP yang bersoalkan 15 pilihan berganda dan 10 isian, saya ‘iseng’ berkata: “Tuhan, jika Kau ingin aku lolos, tolonglah aku” tapi saya tidak berpikir dan saya hanya menebak semua pilihan ganda kecuali satu nomor terakhir. Saya berpikir, saatnya bagi saya untuk berpikir paling tidak di satu soal. Saya lolos peringkat terbaik provinsi kelima, dengan skor 14 poin benar dari pilihan berganda dan nilai minus dari soal pilgan terkahir saya yang salah. Saya sadar bahwa peluang yang begitu kecil ini, adalah bukan kebetulan saja. Ini merupakan sesuatu yang besar. Saya tidak layah menuntut Tuhan memberikan saya peluang seperti ini lagi. Saya akan berjuang, saya akan mencoba yang terbaik agar Tuhan bisa sedikit saya senangkan akan apa yang ia rencanakan.

Singkta kata, saya akan terus berjuang. Saya tidak akan berhenti. Kegagalan adalah sebuah kejatuhan yang bukan berarti saya tidak bisa berlari lagi, saya akan terus berlari tidak henti. Saya akan terus melawan nasib entah betapa kerasnya hidup menampar saya. Saya masih punya impian dan cita-cita. Saya akan menghidup hari-hari yang akan datang dengan semangat: membuktikan bahwa perjuangan melawan nasib, penolakkan keras saya terhadap pikiran orang-orang yang menatap saya rendah, serta pelayakkan saya untuk bisa disebut ‘orang’ oleh Papa saya bukanlah bualan belaka.

Ditulis di Tokyo, oleh Theodorus Jonathan Wijaya.

Setelah merasa terus dihajar hidup dan sadar bukan hal yang tepat untuk berhenti berjuang saat terjatuh. Setelah sadar masih perlu pemberontakkan besar-besaran melawan nasib yang jauh dari kata usai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s