Overview dan Seleksi Berkas MEXT (Monbukagakusho)

Okay! Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan tentang salah satu beasiswa yang sudah cukup terekspos di Internet, yakni Beasiswa Monbukagakusho/MEXT. Well, as usual, let’s start with the keyword: MEXT. MEXT adalah akronim dari Ministry of Education, Culture, Sports, Science & Technology in Japan.

mext_en_topimg

logo_en

Nah, dari keywordnya udah ketahuan kan kalau yang menyelenggarakan beasiswa ini adalah Pemerintah Jepang. Beasiswa ini menyediakan banyak kesempatan untuk belajar di negeri sakura, mulai dari undergraduate (S1), research srudent (S2 dan S3), college of technolgy (D3), personal training college (D2), teacher training, dan Japanese studies.

Gw sebenernya udah tau ada beasiswa ini sejak gw SD *bohh jauh bet ya, iya karena di lingkungan Gereja gw ada yang dapet beasiswa ini dan orang tuanya pernah cerita  tentang anaknya yang udah kerja di sana. Nah, gw don’t give a shit gt istilahnya karena yaaa gw pikir juga apa ya… Jepang… Jauh bet ah. Terus pas gw SMP, cece gw ada nyoba beasiswa ini tapi sayangnya ia tidak lolos tahap berkas tapi ya tetep gw belom tertarik karena ya sama alesanya pas gw SD hehe.

Tapi semua mulai berubah pas gw SMA. Di SMA, gw tergolong anak dengan nilai yang baik dan natur yang ambis, in a positive way tentunya, nah gw merasa ga cukup gt materi yang diajarkan guru. Gw jadi kek sering bawa soal-soal atau chapter ebook yang gw print dari Internet untuk nyiapin diri mengikuti olimpiade matematika gt (would take about it later if I’d chance for this). Sewaktu SMA, untungnya gw ga sendirian kek nerd2 gt haha masih ada banyak temen gw yah… yang mungkin sejenis pemikiran nerdnya untuk berdiskusi atau ngongek paling gak. Salah satunya adalah Teddy Wijaya Harlim yang sangat aktif belajar bahasa: Indonesia, Inggris, Jerman, Thailand, hingga Jepang. Nah untuk bahasanya ini gw sering bingung aja sama motivasi temen-temen yang belajar bahasa asing tertentu, terlepas dari ambisi poliglot ya tetep aja gw bingung.

Sewaktu-waktu dia ngambis bet belajar bahasa Jepang sama temen gw juga, Deline namanya. Nah, dari mereka gw tau kalau salahs atu ambisi mereka belajar nihongo adalah karena mau nyoba beasiswa MEXT ini. Gw jadi makin pengen tau kan tentang beasiswa ini, mau tau detilnya gt, what makes this scholarship likeable or worth-trying…

Nah, beberapa poin yg gw dapet tentang kelebihan beasiswa ini adalah:

  1. Negara Jepang memiliki standar keilmuan yang tinggi dan setara universitas-universitas terbaik lainnya di dunia dan di banyak bidang (contoh: teknik elektro, teknik material, teknik sipil, teknik mesin, dll.) sehingga terjamin pendidikan Anda akan melebihi apa yang bisa Anda peroleh di Indonesia. Jujur emang tergantung individunya, tapi kualitas pengajar, kualitas laboratorium, dan materi pembelajaran menentukan outcome loh. Coba tengok pemeringkatan oleh QS World University Ranking deh. Nih salah satunya untuk jurusan teknik elektro. Terlihat kan bedanya dengan perguruan tinggi di Indonesia – memang yang dinilai adalah reputasi akademik, employer (including dosen), citation of papers, dan H-indexnya tapi tetep aja empat poin ini bs mewakili indikator suatu perguruan tinggi.
  2. Biaya kuliah ditanggung 100% oleh pemerintah Jepang. Biaya ini masih ditambah dengan tunjangan ¥117.000/bulan (Besar tunjangan tahun 2015, untuk tahun 2016 dan tahun selanjutnya ada kemungkinan mengalami perubahan). Jadi asal lu ga hedon gimana gt, ya cukup pasti untuk memenuhi biaya sewa apartemen, makan, listrik-air, dan transportasi (ini sih yg sementara gw tau dari para pelajar yang gw tanya-tanyain beberapa hari ini). Juga diberikan satu tiket pulang-pergi Jakarta-Jepang, yaah sekali aja untuk nyamp dan pulangnya, kalu mau selebihnya musti nabung atau biaya sendiri, hehe.
  3. Kita akan memperoleh input budaya Jepang. Nah tentang budayanya, gw kagum sama budaya orang Jepang yang disiplin dan memiliki semangat riset yang tinggi. Jadi, dengan beasiswa ini bakal ada transfer budaya yang menguntungkan kita – yah selebihnya yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia yah jangan diambil ;p. Oyah, not to mention, kita bakal bisa bahasa Jepang.. yah ini yg gw pikir sih, secara lu bakal tiap hari di sana, emang bisa pake English ke sesama foreigner tapi lu terpapar bahasa Jepang selama waktu yang lama cukup deh keknya untuk membuat lu mampu berbahasa Jepang, hehe.
  4. Keuntungan memperoleh beasiswa ini juga idem dari keuntungan umum meraih beasiswa, misalnya berpotensi sebagai batu loncatan untuk ke pendidikan tinggi di negara lain. Saya pernah sih nyari-nyari di internet gatau bener apa engga bahwa ada peraih beasiswa MEXT yang selepas S1 nya memperoleh beasiswa lagi entah lanjut di Jepang, ataupun negara lain seperti Amerika dan Jerman. Semoga aja deh ya.

Nah, melihat beberapa poin di atas, gw jadi tertarik banget untuk mencari-ncari informasi seputar beasiswa MEXT dan dengan membaca satu demi satu cerita perjalanan para periah beasiswa, gw jadi tertarik juga untuk mencoba beasiswa ini. Belum lagi, Teddy, temen gw tadi, juga ikut mendukung gw, dia sampe secara voluntir ngeprintin gw soal tes matematika tahun 2012 dan 2013 gitu, super sekali.. (thanks so much Teddy, you intervene my life path to a more adventurous and better one indeed!). Tapi gw belom bisa bahasa Jepang sama sekali sih emang. Gw bukan penggila anime-manga-cosplay juga, gw cuma nonton anime yang tayang di Indosiar sebelum di ban yakni Pokemon dan Detective Conan, kepotong2 juga nontonya, kan jamnya sama kek jam Gereja. Naruto di Global TV sambil makan malem, gw rasa sebagian dari kalian juga melakukanya. So, kalau ditanya why Japan? yaah murni jawabanya yang di atas itu kalau gw hehehe.

Psst… Salah satu yang sering ditanya pas wawancara adalah Why Japan ini loh, mainstream dan predicted sih, tapi yaah itu jawaban gw kalau ditanya. Selanjutnya gw bakal jelasin tentang persyaratan dan berkas-berkas yang diperlukan.

Bagi yang udah tahu tentang beasiswanya, bisa langsung skip beberapa poin berikut sampe ke heading Notes and About, heading ini saya yang ramu sendiri bukan copas, hehe.

Beasiswa S1

Masa studi 5 tahun termasuk 1 tahun belajar Bahasa Jepang (kecuali jurusan kedokteran umum, gigi, hewan, dan sebagian farmasi lama masa studi adalah 7 tahun).

Sayaratnya adalah sebagai berikut: lulusan SMA dan sederajat; nilai rata-rata Ujian Nasional minimal 8,4; lahir antara 2 April 1994 sampai dengan tgl. 1 April 1999. Bagi pelamar yang nilai rata-rata UN-nya kurang dan ingin memilih bidang studi S-1 IPS, bisa mendaftar dengan JLPT level N3 atau lebih (bagi yang memiliki JLPT).
(** Syarat ini adalah untuk pendaftaran yang lalu dan akan berubah untuk pendaftaran tahun depan)

Pelamar SMA atau sederajat jurusan IPS/ Bahasa atau bidang ilmu sosial tidak bisa mendaftar bidang studi IPA, tetapi untuk jurusan IPA atau bidang teknik bisa mendaftar bidang studi IPS atau IPA

Jurusan yang ditawarkan oleh beasiswa ini bisa dilihat di laman ini. Yang perlu digarisbawahi adalah 3 jurusan yang kamu pilih harus dalam satu golongan penjurusan (yang ada di hyperlink di atas) misalkan kamu IPA-A ya gabisa pilihan keduanya IPA-C karena nanti materi ujian tertulisnya beda. Untuk ujian tertulis tunggu pos selanjutnya deh.

Beasiswa D3

Masa studi 4 tahun termasuk 1 tahun belajar Bahasa Jepang. College of Technology memiliki program 5 tahun yang dirancang bagi lulusan SMP. Siswa penerima Beasiswa Monbukagakusho (lulusan SMA dan sederajat) akan masuk College of Technology sebagai mahasiswa tahun ketiga. Studi teknik sebagian besar terdiri dari eksperimen / percobaan dan latihan-latihan praktek. Lulusan dari sekolah ini diharapkan menjadi ahli teknik (engineer).

Lulusan SMA dan sederajat, jurusan IPA saja; nilai rata-rata Ujian Nasional minimal 8,0; lahir antara tgl. 2 April 1994 sampai dengan tgl. 1 April 1999
(** Syarat ini adalah untuk pendaftaran yang lalu dan akan berubah untuk pendaftaran tahun depan). 

Jurusan yang ditawarkan seperti yang ada di laman ini.

Beasiswa D2

Masa studi 3 tahun termasuk 1 tahun belajar Bahasa Jepang. Specialized Training College terpisah dari sistem pendidikan Jepang yang biasa. Sekolah ini menawarkan pelatihan praktis kejuruan.

Syarat: lulusan SMA dan Sederajat; nilai rata-rata Ujian Nasional minimal 8,0; lahir antara tgl. 2 April 1994 sampai dengan tgl. 1 April 1999. Bagi pelamar yang nilai rata-rata Ujian Nasional dibawah 8,0, dapat melamar program D-2 dengan melampirkan Japanese Language Proviciency Test (JLPT) level N4 atau lebih (bagi yang memiliki JLPT).
(** Syarat ini adalah untuk pendaftaran yang lalu dan akan berubah untuk pendaftaran tahun depan)

Jurusan yang ditawarkanseperti pada laman ini.

Prosedur Seleksi dan Pendaftaran

Prosedur seleksi:

  1. Pengumuman seleksi dokumen akan ditampilkan di website kedutaan Jepang tanggal 1 Juli 2015 (Rabu Siang). Bagi yang lolos seleksi dokumen akan dipanggil untuk mengikuti ujian tertulis di Jakarta/ Surabaya/ Medan/ Makassar, pada tanggal 9/ 10 Juli 2015.
    *Tidak semua pelamar akan lolos seleksi dokumen dan dipanggil ujian tertulis.*
  2. Mereka yang lolos ujian tertulis akan dipanggil untuk wawancara di Jakarta pada bulan Agustus 2015..
  3. Setelah seleksi wawancara kami akan merekomendasikan pelamar ke Monbukagakusho sebagai calon kandidat dari Indonesia, dan berkasnya akan bersaing dengan berkas pelamar dari negara lain yang juga direkomendasikan ke pihak Monbukagakusho dalam penyeleksian nilai dan berkas tahap akhir di pihak Monbukagakusho.
  4. Mereka yang lolos seleksi akhir di Monbukagakusho akan menjadi penerima beasiswa. Pengumuman akhir penerima beasiswa diumumkan pada bulan Januari 2016. Bagi peserta yang lolos, akan berangkat ke Jepang pada awal April 2016.

Prosedur pendaftaran:

  1. Hanya pelamar yang memenuhi persyaratan di atas saja yang boleh mendaftar
  2. Mengisi formulir aplikasi yang dapat didownload di sini:
    (saat ini belum tersedia)Untuk pengisian Field of Study and Majors and Related Key Terms in Japan (pertanyaan no. 7 pada formulir), dapat dilihat di lembar pilihan jurusan terkait.
  3. Lakukan registrasi secara online melalui link berikut (saat ini belum tersedia ), lalu cetak/print out e-mail konfirmasi registrasi online yang dikirimkan ke e-mail pelamar
  4. formulir aplikasi yang sudah diisi:  lembar printout konfirmasi registrasi online, fotokopi Ijazah/Ijazah sementara yang dilegalisir/dicap basah dari sekolah, fotokopi SKHUN/SKHUN sementara yang dilegalisir/ dicap basah dari sekolah, fotokopi sertifikat kemampuan Bahasa Jepang (JLPT) [Berkas terakhir ini sifatnya opsional, jika tidak ada maka tidak perlu dikirim, tidak perlu memaksakanya menurut saya]
  5. Kirim via pos atau antar langsung dokumen di atas ke:Bagian Pendidikan Kedutaan Besar JepangJl. M.H.Thamrin 24 Jakarta 10350
    (Cantumkan kode “SMA-2016” pada Kanan Atas AmplopSiapkan dokumen masing-masing 1 rangkap:

    Jangan melampirkan dokumen yang tidak diminta karena tidak akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyeleksian.

Notes and About

Tentang Persyaratan dan Berkas:

Saya sering melihat di blog laen ataupun official FAQ page tentang syarat nilai UN. Salah satu yang sering saya baca adalah: “Kalau nilai UN saya ga nyampe syarat minimal gimana ya? Diterima ga ya berkasnya?”. Yaah keterima lah, cuma diproses lebih lanjutnya gw gatau alias ga ada yang bisa jamin. Gw sih percayanya standar minimum itu ditetapkan untuk memberi batasan peserta bukan? Belum lagi istilah kurang dikit itu ga make sense juga, berapa yang tergolong kurang dikit? Mau pake definisi dekat di limit, hehe, jika dan hanya jika diterima berkasnya ya ._.? Solusi dari w sih mending berjuang buat nilai UN kamu bagus dan melewati 8.4 atau syarat di tahun kamu. Juga inget bahwa se-Indonesia yang nyoba beasiswa ini banyak bet, nah coba kamu pasang standar kamu sendiri… Misalkan target rata-rata mata pelajaran UN kecuali Bahasa Indonesia adalah 8.6. Mengapa? Karena yang akan diujikan kelak adalah mata pelajaran kecuali Bahasa Indonesia, so misalkan BI kamu ngangkat rata-rata kamu tetapi mapel sains lainnya ga bagus, w tebak sih yaa… w g tau juga… tapi mungkin bakal kurang kompetitif dibanding temen yang laen yg begitu.

Tentang jurusan yang ada namanya kan pake bahasa Inggris semua, nah coba cari dulu di Google dan tanya-tanya kakak kelas di kuliah tentang apa yang sebenernya dipelajarin. Ada isu bahwa sesampai di Jepang dan kelas persiapan bahasa serta sains, kita bisa pilih lagi jurusan. Nah saya rasa alangkah bijaknya ga mengandalkan fakta tahun lalu ini,hehe pilih aja yang bener-bener kamu mau dan sesuai passion kamu.  Jadi perjuanganya total. Aku saranin sih jangan milih jurusan yang bakal kamu sesali, kek misalkan ada temen yang ngundurin diri dari tahap wawancara karena jurusan di perminyakan, tetapi dia ga yakin sama perminayakan Jepang (lho?) dan udah nyaman di FTTM ITB, kan sayang.

Tentang berkas-berkas yang dikirim. Aku tebak sih ya, dulu banyak yang lampirin fotokopi piagam-piagam gitu, hehe, gaperlu kok itu udah ditulis kan? Forum dari pengisian data online aku saranin diprint langsung dari browser aja jadi ada catatan laman yang dicetak, tapi terserah. Kalau belom ada fotokopi SKHUN atau bahkan SKHUN sementara pakai aja surat yg dikasih sekolah kamu yang penting ada nilai UN (tambah nilai UAS, dan “LULUS” lebih bagus). Soalnya dulu aku gini dan lolos seleksi berkas juga kok, hehe, tadinya mau ke dinas kota tau g sih, wkwk.

Banyak yang bilang JLPT (Japanese Language Porficiency Test) itu opsional doang dan ga ngaruh. Gw gak tau kebenaranya. Hanya saja dari tiap tahun, gw temukan di blog para peraih bahwa mereka state begini juga. Dan gw juga pas sebelum wawancara juga dinilangin kalau ini ga berpengaruh. Saran gw, tanpa JLPT juga beraniin diri aja dan yang ada JLPT jangan besar kepala juga yah, hehe. Buktinya aja dari 3 yang lolos beasiswa S1 tahun 2016, 2 di antaranya yang gw tau belom bisa sama sekali nihongonya hehe (including me hehe, but i’m a motivated learner kok).

Tentang pengisian formulir aplikasi. Wah ini terlalu banyak nih kalau mau dijelasin, aku refer aja yah ke link laen. Laman FAQ Pengisian Formulir dan Registrasi Online resminya bisa ditemukan di sini.

Pilih S1, D3, atau D2?

Ada banyak yang bilang kalau emang mau mudah ke Jepang dengan beasiswa ini, alangkah baiknya kalau kita ga memilih S1 sebab ratio lolosnya kecil. Entah kenapa, di tahun 2015 ini, Indonesia tidak bisa mengirimkan banyak awardee ke Jepang untuk tahun 2016.

Salah satu alasan yang menurut saya logis adalah devaluasi nilai Yen terhadap Dollar Amerika Serikat (persentase pelemahan nilai Yen lebih besar dari pelemahan nilai Rupiah, sekalipun nilai mata uang tetap lebih tinggi). Alasan yang menurut saya resmi adalah sebagai berikut. Soal ujian tertulis Fisika yang diberikan  cukup lebih mudah dibanding tahun lalu, tetapi ada satu soal yang menurut saya lebih sulit (bagi temen saya medalis olimpiade Fisika sih gampang semua :p), mungkin banyak teman-teman dari negara lain yang menjawab benar pula di soal ini sehingga mereka dalam secondary screening (akan sy bahas selanjutnya) lebih likely to be chosen. Intinya nanti nilai tes tertulis kita distore ke MEXT Tokyo lalu dibandingkan dengan standar mereka. Intinya, sebaiknya jangan pegang fakta: wawancara -> awardee kalo menurut aku.

So, perhatikan beberapa poin penting. Jurusan S1 relatif lebih sulit dibandingkan D3 dan D2 karena: 1. materi soal ujian tertulis lebih sulit, 2. lebih kompetitif, 3. lebih bisa  gugur di secondary screening dengan negara lain.

Secondary screening adalah penyeleksian oleh pihak MEXT di Jepang sana yang akan menjadi penentu terkahir kelolosan kita. Ada beberapa negara yang hanya ditawarkan beasiswa S1, membuat penyaing di program D3 dan D2 lebih sedikit daripada kompetitor di S1, so kalau mau S1 memang perlu lebih menyiapkan diri.

Oyah, setau aku ga ada sistem kuota. Tetapi perlu diingat bahwa setiap negara mendapat pengumuman yang berbeda-beda (tau dari mana? dari sosnet, hehe). Jadi, saya conclude kalau ada standar minimum kelolosan tertentu sehingga tak perlu dibuat sistem quota minimum melainkan standar minimum.

Saya saranin lagi jangan pilih jurusan atau program beasiswa yang memang bukan sesuai passion kamu. Misal, “ah gw pilih jurusan ini aja lah keknya dikit saingan” atau “ah pilih program D2 aja deh daripada S1 susah”. Nah, ini sih terserah kamu lagi. Cuman, aku saranin ya perjuangin apa yang kamu bener-bener dambakan, it’s like something that allows you to fight, to breathe, to run, and to be awaken more. So, kalau emang bener-bener mau suatu jurusan/ program tertentu yaa jangan lepasin cita-cita itu untuk yang laen. Pengalaman saya, karena saya membuat kondisi kritis ini (kondisi kritis salah satu konsep Mestakung Pak Yohanes Surya), yaaah paling engga saya bisa berjuang baca ebook di liburan setelah SBMPTN (nonstop gt UN, SBMPTN, tes Monbu) ohyah belajarnya pake faith juga, soalnya belom tau lolos atau engga ke tes Monbu-nya. Selang antar pengumuman ikut tidaknya kita ke tes tertulis hanya seminggu, so it’s your faith to decide wheter to learn or not and to count on your SBMPTN or not.

Oyah, bukan berarti pula kalo bakal lebih mudah dalam meraih D3 dan D2, sebab pasti ada standar minimumnya yang selektif. Logikaku sih ._. hehe.  Aku sempet kepikiran mau coba D3 atau D2 karena bisa lebih aplikasiin ilmu secara langsung di praktik. Selain itu, info yang kudapat, mahasiswa D3 bisa nerusin beasiswa juga kan ke S1.

Kasus gw sih ini, gw kan g lolos SNMPTN, jadi karena gw gak (mau) ada cadangan PTS gw cemas banget kan untuk SBMPTN-nya, udah gw pilihanya FTI-G, STEI, FMIPA ITB lagi hohoho, nah gw baru bisa tidur abis makan antimo jam 3 pagi gt, bangun jam 6 terus tes SBMPTN, puji Tuhan lolos ke FTI-G (rencana Nya memang tak ada yang bisa tahu, praise the Lord deh). Nah gw jadi belajar Monbu juga dibayang-bayangi kecemasan ga kuliah setahun hahaha.. Untuk persiapan dan on-the-warfield tes tertulis gw pos di blog posting gw selanjutnya yaah :D.

Have a blast!

Sedikit motivasi yaah 🙂 dari pak Teddy Roosevelt nih hehe..

theodore-roosevelt-quotes-on-leadership.jpeg

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. Handoko Setiawan says:

    Halo kak!
    Saya seorang murid kelas XII yang ingin mencoba beasiswa ini 😀 ( Well, it has been my dream since I was a 10th grader ) Saya mau tanya.. Syarat untuk mengikuti beasiswa ini kan nilai UN yang memenuhi sesuai dengan jenjang yang diiinginkan.. Nah, yang menjadi pertanyaan saya.. Titik berat dari persaingan dalam seleksi berkas ini terletak pada nilai UN atau nilai sekolah ya? Terima kasih 😀

    Like

    1. Theodorus says:

      Wah kalau detilnya saya juga tidak tahu nih :(. Tapi dari cerita teman-teman yang udah coba seleksi berkas dan gagal, rata-rata nilai UN mereka kurang maksimal. Kamu belum UN, kan? Kalau belum, maksimalkan ya!

      Like

      1. Handoko Setiawan says:

        Oh, I see I see OwO Makasih banyak kak ^^ Pasti! Mau coba target lebih tinggi di UN nanti 😀 Tapi aku takutnya kak, kan ada wacana tuh UN bakal ditiadakan, jadi takut kalau ga ada UN gimana nantinya :’)

        Like

  2. Aho21 says:

    Hai kak, untuk pengisian formulir D3 apakah menggunakan bahasa Inggris atau Indonesia ya?
    Terima kasih.

    Like

    1. Theodorus says:

      Halo maaf telat banget ya. Pada tahun aku, aku mengisi dalam bahasa Inggris, tetapi untuk alamat dkk gunakan format Indonesia. Untuk kepastian bisa lihat FAQ di webpage Kedutaan atau konfirmasi langsung via telepon ya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s