Beasiswa: Motivasi Pemberi dan Pemburu Beasiswa

Gw pengen ngulas dikit tentang beasiswa. Let’s start with the keyword then: beasiswa. Beasiswa itu sebenernya apa sih? Gw sih mikir gampangnya, secara etimologi sih, bea itu biaya dan siswa itu pelajar jadi artinya biaya untuk pelajar. Oke ini maksa. Scholarship is a grant or payment made to support a student’s education, awarded on the basis of academic or other achievement. Ini sih yang gw dapet dari Google pas gw ketik ‘scholarship means’. Gw rasa udah pada tau lah ya intinya apa itu beasiswa.

Beasiswa itu berarti luas dan mencakup banyak tingkat pendidikan tapi yang paling dibicarakan adalah beasiswa undergraduate, graduate, master, hingga research student. Pengalaman surfing di internet gw sih memberi tahu gw ada banyak banget beasiswa yang bisa di-apply oleh warga negara Indonesia. Dulu gw pernah nyoba ASEAN Schoalrship by Singapore Ministry of Education buat SMA gt tapi fail hehe. Ada juga beasiswa S1 ke Jepang dari MEXT (Monbukagakusho) dan Mitsui Busan yang fully cover all the tuition and living cost. Untuk S2-S3 ada LPDP, Fullbright, DAAD, Chevening, AusAid, Nuffic Neso, dan lain-lain. Banyak banget dah, itu belom itung beasiswa yang ga full, misal potongan tuition fee dan study grant yang lebih banyak lagi kalau mau dikompilasi.

Nah tentang beasiswa nih ya gw udah sering banget denger orang tua coba nyaranin kita untuk dapet beasiswa, temen-temen yang ngambis untuk dapet beasiswa, hingga isu banyaknya beasiswa yang tersedia. But the fact is, there is something i’d really like to know about shcolarship. That is the ‘why?’ question. Why there are such good people, corporation, or even government want to allocate their budget for scholarships? So, blog post kali ini akan coba mengulas mengapa ada pemberi beasiswa.

Mengapa ada pemberian beasiswa?

First things first, this is the first thing crossing on my random mind. Kebanyakan background pemberian beasiswa adalah hubungan kerja sama, entah itu hubungan kerja sama antarnegara, kerja sama antara perusahaan dengan pegawainya, atau hubungan kerja sama lainnya. Contoh paling nyata adalah beasiswa ASEAN Scholarship yang gw sebut di atas, beasiswa itu emang khusus ditargetkan untuk negara ASEAN aja sebagai effort Singapore untuk memberi kesempatan higher education di sana. Contoh lainnya adalah pemberian beasiswa dari suati instansi kepada pelajar anak sang pegawai, misal Blue Bird Group Indonesia yang kalau kita di taksi gabut terus baca majalahnya, ada cerita pemberian beasiswa gt.

Pemberian beasiswa antarnegara juga bisa merekatkan hubungan bilateral antara keduanya. Misal, pemberian beasiswa dari pemerintah Federasi Russia kepada pelajar Republik Indonesia untuk jenjang S1 hingga S3. Tentu hal ini akan mempererat hubungan Indonesia-Russia sebab Indonesia mengirimkan ‘cultural ambassador‘ mereka ke Russia untuk memperoleh pendidikan. Bisa juga kita sebut sebagai transfer teknologi yang diberikan cuma-cuma dari pemerintah negara asing ke bangsa kita.

Motivasi pemberian beasiswa yang lainny adalah internasionalisasi dan diversifikasi nasional. Kalau sering nyari di situs kumpulan beasiswa-beasiswa (yang kadang itu numpuk gaje entah gimana gak categorized dan yang beasiswa yg dishare itu gak fully covers juga) banyak banget requirement beasiswa yang cukup aneh. Misal nih ya, gw pernah ngeliat beasiswa yang hanya ditujukan kepada pelajar negara-negara Afrika yang memiliki kondisi perkenomian dalam syarat tertentu. Beasiswa untuk pelajar kaum minoritas, seperti beasiswa bagi mereka yang memiliki unsur SARA tertentu. Misal, gw pernah nemu beasiswa pemerintah New Zealand bagi suku Aborigin, ada juga beasiswa khusus untuk African-American. Nah ini tentang diversifikasi suatu universitas atau lembaga pendidikan.

Pentingnya apa gitu? Ide, pemikiran, dan kehalian banyak orang dari latar belakang yang berbeda pasti akan menjadi masterpiece jika bisa diolah dengan baik. Semakin banyak perbedaan maka semakin banyak kelemahan dan keunggulan masing-masing yang bisa saling melengkapi. Misalnya, pemerintah Jepang yang mulai menggalakkan pemberian beasiswa bagi pelajar internasional untuk menginternasionalisasi Jepang yang dulu didepict sebagai isolated advance country bagi banyak negara barat semata-mata karena bahasa dan budayanya. Dengan memiliki banyak pelajar berbudaya yang sungguh berbeda, bisa terjadi akulturasi ide yang menguntungkan mahasiswa Jepang pula. Misalnya, budaya open active debate di kelas-kelas perkuliahan dunia Barat bisa menstimulus keaktifan pelajar Jepang (yang saya baca bahkan untuk debat saja, dosen perlu menunjuk secara individual baru mahasiswa akan berbicara).

Alasan berikutnya adalah alasan altruis yakni transfer ilmu dan teknologi untuk memajukan pendidikan di negara lain dan membagikan kemajuan negara maju ke negara berkembang. Enough said lah ya, I think this is the most generic idea we have. Oyah untuk kasus ini kadang ada kasus yang menurut saya untuk memenuhi tuntutan altruisme saja. Misalkan, beasiswa yang diberikan dengan kuota maksimum tertentu dan kuota ini sangat sedikit untuk suatu negara.

Tetapi ada juga alasan-alasan pemberian beasiswa yang bersikulasi di beberapa forum Indonesia yang kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Pemberian beasiswa dari negara maju tentu akan menolong generasi pelajar Indonesia untuk memperoleh ilmu pengetahuan terdepan dan cutting-edge technology yang akan menyukseskan negara kita sendiri ke depannya. Yap, memang tidak semudah itu implikasinya. Akan kita bahas nanti.

Beberapa keuntungan nyata negara pemberi beasiswa juga menjadi pertanyaan saya. Tentu saja mereka harus mereserve porsi untuk mahasiswa asing yang tidak hanya dibiayai dan diberi tunjangan tetapi juga menghilangkan satu kursi bagi warga negara mereka untuk belajar di sekolah tersebut.

Saya akan menggunakan contoh untuk menjelaskan keuntungan nyata pemberi beasiswa. Keuntungan ini bukan berarti kerugian bagi negara pengirim scholarship awardee maupun bagi awardeenya sendiri. Keuntungan ini juga bukan akal-akalan negara pemberi tetapi merely sebagai side-effects dari beberapa alasan pemberian beasiswa di atas.

Beberapa negara Eropa mulai kehilangan minat remaja untuk memasuki dunia keteknikkan (info dari katiing saya sih, kalau emang ada yg mau ralat dicomment aja ya). Pelajar di negara-negara Eropa mulai lebih tertarik ke bidang sosial sebab bidang keteknikan di sana sudah terlampau maju dan banyak dari para remaja yang sudah merasakan kemajuan itu setiap hari (e.g. mobil listrik, energi terbarukan, dll.). Persoalan-persoalan kompleks industri-industri pokok negara tersebut pun membutuhkan tenaga pemikir yang handal. Nah untuk memasok tenaga pemikir ini, mereka offer international schoalrship yang salah satu tujuanya adalah menyelesaikan permasalahan di negara mereka.

Contoh, ada Pak Yogi Ahmad Erlangga dan rekannya (saya gatau kenapa pemberitaan sosmed g distate nama rekannya, padahal di paper beliau banyak orang yang turut terlibat, ada juga insinyur Belandanya) yang menemukan solusi Helmhotz Equation (terkait perminyakan gitu, kalau bisa ditemukan solusi umumnya maka eksplorasi dan eksploitasi perminyakan akan jauh lebih mudah). Beliau merupakan lulusan ITB yang mendapat beasiswa ke TU Delft, Belanda. Nah sebagian riset yang beliau lakukan didanai dari research grant Total. Tau kan Total? Perusahaan perminyakan itu loh. Nah, win-win solution kan bagi Pak Erlangga dan Total, hehe.

Nah itu sedikit olah pikir saya terkait motiavasi pemeberian beasiswa. Berikutnya adalah mengapa ada pemburu beasiswa? Dan mengapa saya membahasnya? Haha, memang jawabannya cukup obvious tetapi beberapa motivasi dari teman-teman pemburu beasiswa harus benar-benar baik (paling gak menurut saya).

Well, saya membahas ini sebab saya temukan ada beberapa yang kurang tepat dari motivasi para pemburu beasiswa, seperti: “gratis dan bagusan disana” hingga alesan simpel tapi aneh dan kurang kuat menurut saya: “gw males di Indo”. Yang terakhir itu emang apa yah.. Like, you what the what? Perhatikan bahwa jalan yang bakal Anda tempuh di negeri orang tidak akan mudah, lurus, dan lapang. Motivasi seperti ini tidak memberikan banyak jaminan bahwa Anda akan kuat untuk beradaptasi dan meraih academic excellence di sana sebab kedya alasan yang menurut saya too simple ini achieved langsung saat Anda dinaytakan sebagai awardee and to live without any concrete goal setelah dapet beasiswanya kadang bisa ngedrive kita tanpa arah. So, it’s a good motivation to had but do create a further goal after you’ve accomplish these. Bagi yang belum dapet beasiswanya dan masih berburu beasiswa denagn landasan tersebut, alangkah baiknya jika mulai membangun alasan yang jauh lebih kuat lagi. Disclaimer saja, bukan berarti alasan tersebut rendahan tetapi saya pikir butuh alasan yang lebih logis dan jelas untuk meraih sesuatu yang sulit, beasiswa. Kita akan membutuhkan determinasi dan dedikasi yang tinggi untuk enlisted sebagai awardee. But… if it works for you, go for it.

Perlu dicatat bahwa dari segi akademik bangsa kita tidak dengan mudah menyerah dan kalah dari bangsa lain. Buktinya adalah banyak pelajar kita yang meraih title yang prestigious di luar negeri. Selain Pak Erlangga di atas ada juga Pak Yohanes Surya yang mendapat beasiswa S3 di Amerika Serikat karena prestasi beliau di S2 yang juga didapat beliau dari beasiswa pula. Saya juga pernah membaca dari laman PPI Tokyo kalau ada mahasiswa Indonesia yang pernah meraih nilai terbaik di kelas, laboratorium, hingga fakultasnya.

So, motivasi pertama yang paling common adalah pursuit of knowledge. Yap, hasrat mencari ilmu yang tak memiliki rasa puas a.k.a long life learning yang dimiliki pelajar Indonesia kadang tidak bisa dilakukan di negaranya sebab sistem pendidikan perkuliahan yang belum sepenuhnya updated to what today’s advacned global world really needs, I mean, today you can’t have an exact same curriculum with years ago because simply the advancement in science is so vast. Misalnya adalah, pelajar yang berhasrat untuk mempelajari jurusan-jurusan anti mainstream seperti teknologi nano, astrofisika, dan aerospace tetapi di Indonesia ilmu-ilmu belom berkembang dengan baik. Saya sempat sangat tertarik mempelajari teknologi nano tetapi di Indonesia baru saya tahu ada di peminatan Fisika Teknik ITB dan Material Science UI, dan di UGM. Belom lagi, sekalipun ada jurusan dan pengajarnya, apakah laboratoriumnya memadai? Jika tidak, tentu ilmu yang didapat bukanlah “Teknik …” tetapi “Teori …”, Pertanyaan lanjutan adalah adakah lapangan kerja yang sudah tersedia untuk jurusan-jurusan ini? Apakah benar-benar negeri ini siap membuka jurusan itu? Jawabannya tentu belum banyak, entah dari pengajar, riset, lapangan kerja, hingga alat-alat laboratorium. Alhasil, banyak pelajar kita yang ambil jalan keluar dengan memburu beasiswa terkait.

Ada beberapa poin penting yang ingin saya highlight di sini. Ingat motivasi Anda untuk mencari beasiswa yang ilmunya belum berkembang di republik ini! Kita belajar ilmu itu bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi untuk masyrakat. Jika memang untuk Anda sendiri, tanya diri Anda apakah saat Anda hilang dari republik ini maka akan ada nilai-nilai yang hilang dari bangsa ini? Jika tidak atau belum ada, maka wujudkanlah! Kembangkan ilmu yang Anda telah peroleh di negeri orang di negeri ini. Jika tidak ada yang memulai, maka Anda harus turut merasa bersalah pula sebab Anda hanya membuat chain reaction untuk mengekpor pelajar-pelajar brilian seperti Anda yang bermotivasi sama seperti Anda dulu – dan Anda tidak bisa mewujudkan harapan Anda tentang teknologi yang Anda percaya seyogyanya berkembang di Indonesia. Tambahan lagi, jika bukan Anda yang memulainya, maka siapa yang akan memulainya? Siapa yang punya pengetahuan mendalam seperti Anda yang telah memperoleh ilmu di negeri orang berkat beasiswa? It’s time to share what you got. You know, in great person there comes great responsibility too. Saya tertarik dengan perubahan yang dibawa oleh Pak Yohanes Surya terhadap ilmu fisika di Indonesia. Sekalipun terhambat birokrasi, dia tetap berhasil membawa perubahan lewat jalan nonpemerintahan, yakni dengan Surya Institute-nya.

 

Motivasi yang menurut saya telah menjadi tren adalah ingin mengerjar ilmu tersebut, ingin meringankan beban orang tua mereka, dan ingin belajar budaya serta kehidupan di negara lain.

Alasan ketiga ini yang menurut saya keren. Iya, Indonesia memang butuh banyak revolusi mental (seperti yang digadang-gandang Pak Jokowi, masih ditunggu loh pak kebijakan yang related ke revolusi mental secara lebih lagi, hehe). Selain itu, saya juga melihat butuh ada gaya hidup baru di Indonesi. Perhatikan saja gaya hidup ngaret, littering, gampang janji, dan lain-lain. Saya sebagai mahasiswa ITB, sekalipun baru satu semester, tapi sudah bisa merasakan budaya ngaret di banyak kagiatan UKM (unit kegiatan mahasiswa). Saya telah mencoba datang tepat waktu tapi tetap saja yang datang tepat waktu sangat sedikit dan membuat acara tidak bisa dimulai ditambah lagi budaya untuk menunggu orang yang belum datang. Akhirnya, saya turut jadi pengaret waktu, bukan karena saya gagal manage waktu tetapi karena saya tidak ingin kehilangan waktu menunggu para pengaret yang sebenarnya. Kita butuh gebrakan budaya yang benar-benar masif. Bayangkan jika tidak ada satu orang yang mulai ngaret maka tidak akan terjadi induced-ngaret seperti kasus saya. Bayangkan jika ada lebih banyak orang yang memandang waktu dengan lebih baik maka sedikit-sedikit orang yang ngaret juga akan dipandang sebagai sesuatu yang salah dan intensitasnya akan berkurang. Kita bisa belajar budaya punctuality ini dari banyak budaya negara lain. Misalnya Jepang dengan disiplinnya yang begitu tinggi dan negara Eropa yang memiliki budaya janji yang sungguh tepat.

Well, itu sedikit pikiran saya tentang beasiswa: motivasi pemberi dan pemburu beasiswa. Akan lebih exciting jika ada yang mau share ideas juga terkait artikel ini, hehe.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s